Di dalam ilmu budaya, terdapat suatu teori yang disebut dengan teori Folklor. Kuliner Nusantara dalam hal ini merupakan contoh dari folklor bukan lisan yang diwariskan secara turun-temurun dalam suatu kolektif tertentu sebagai salah satu bentuk identitas.
Selat Solo [Jateng]
Selat Solo adalah salah satu makanan khas di kota Solo. Selat Solo yang dikenal juga dengan nama bistik jawa merupakan gabungan antar bistik daging yang berkuah coklat dan salad sayuran plus telur rebus/pindang dengan mayones
Plecing Kangkung [Lombok-NTB]
Plecing kangkung adalah masakan khas Indonesia yang berasal dari Lombok-NTB. Plecing kangkung terdiri dari kangkung yang direbus dan disajikan dalam keadaan dingin dan segar dengan sambal tomat, yang dibuat dari cabai rawit, garam, terasi dan tomat.
Sambal Cibiuk [Garut-Jabar]
Dibandingkan jenis sambal yang lainnya, Sambal Cibiuk memiliki keunikan tersendiri karena rasa pedas yang dihasilkannya, tidak akan meninggalkan rasa panas baik di mulut maupun di perut karena memakai cabai rawit berukuran besar atau yang sering disebut cengek domba oleh masyarakat Sunda.
Ayam Betutu [Bali]
Betutu adalah lauk yang terbuat dari ayam atau bebek yang utuh yang berisi bumbu, kemudian dipanggang dalam api sekam. Betutu ini telah dikenal di seluruh Bali. Betutu digunakan sebagai sajian pada upacara keagamaan dan upacara adat serta sebagai hidangan dan di jual
Rawon [Jawa Timur]
Rawon adalah menu berupa sup daging dengan bumbu khas karena mengandung kluwek yang membuat kuah masakan ini menjadi hitam. Umumnya rawon disajikan bersama nasi, dilengkapi dengan tauge kecil, daun bawang, kerupuk dan sambal terasi.
Senin, 30 April 2012
KULINER NUSANTARA: Simbol Keberagaman Identitas Budaya
Di dalam ilmu budaya, terdapat suatu teori yang disebut dengan teori Folklor. Kuliner Nusantara dalam hal ini merupakan contoh dari folklor bukan lisan yang diwariskan secara turun-temurun dalam suatu kolektif tertentu sebagai salah satu bentuk identitas.
AYO, Jadikan SEMUR Go Internasional !!
KECAP: Dalam Perspektif Sejarah
- Teori 1: "kecap" artinya "茄汁": "茄" adalah karakter Hanzi untuk "terong" (labu) atau bentuk pendek "tomat" (番茄). Jadi "kecap" artinya "茄汁" atau "saus/kuah air tomat". Pengertian ini lebih cocok untuk arti ketchupdalam bahasa Inggris.
- Pelafalan modern dalam bahasa Taiwan (sangat mirip Amoy): 茄(kiô) 汁(chiap)
- Pelafalan modern bahasa Kantonis: 茄(ke4) 汁(jap1)
- Teori 2: "kecap" artinya "鮭汁": "鮭" adalah karakter Hanzi untuk "salem" (鮭魚), atau secara umum "ikan". Oleh karena itu, "kecap" artinya "鮭汁" atau "kuah ikan".
- Pelafalan dalam bahasa Taiwan modern: 鮭(kôe) 汁(chiap)
- Pelafalan dalam bahasa Kantonis modern: 鮭(gwai1) 汁(jap1)
- Kecap merupakan ekstrak dari hasil fermentasi kedelai yang dicampurkan dengan bahan-bahan lain (gula, garam, dan bumbu) untuk meningkatkan cita rasa makanan.
- Bahan baku utama kecap pada umumnya adalah kedelai. Hal ini memiliki keunggulan tersendiri karena kedelai memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, terutama protein dan karbohidrat.
*) Diolah dari berbagai sumber
YOGYAKARTA: Angkringan VS Lesehan
Beberapa pedagang wedang (minuman panas) berderet di ruas Jalan Wongsodirjan . Para pelanggan duduk lesehan di sepanjang kaki lima di seberangnya. Dagangan utama adalah minuman panas, dengan berbagai makanan ringan sebagai pendampingnya.
Minuman yang paling banyak disukai anak-anak muda pelanggannya adalah kopi jos, yaitu segelas kopi panas yang dicemplungi arang membara. Tersedia pula nasi kucing dan berbagai lauk sederhana. Yang dimaksud nasi kucing adalah nasi dalam porsi kecil, dengan sambal trasi goreng, dibungkus daun pisang dan koran.
Di Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan Kraton Ngayogyakarta juga banyak pedagang wedang ronde, jagung bakar, dan jajanan lain pada malam hari.
Angkringan Pak Man (bergantian dengan Pak Alex) > Jl. Wongsodirjan, di sisi Stasiun KA Tugu, 0815 78487778: Direkomendasikan oleh Dadi Krismatono. Tempat lain yang direkomendasikan Dadi adalah Angkringan Pak Min di ujung Selatan Jalan Gejayan. Masakannya pedas, lezat, murah-meriah. Di halaman Pakualaman juga ada Angkringan Pak Mul yang terkenal.
Orang Jawa suka makan sambil duduk bersila di tikar yang ditebar di lantai. Cara ini umum disebut sebagai lesehan. Nostalgia cara makan santai dan bohemian ini sekarang justru membuat banyak orang menyukai gaya makan lesehan seperti itu.
Pada malam hari, di kedua sisi Jalan Malioboro, bermunculan puluhan pedagang makanan dengan gaya lesehan. Kebanyakan menawarkan sajian gudeg dan ayam goreng, disertai pilihan minuman panas dan dingin.
Di masa lalu, banyak wisatawan enggan makan di warung-warung lesehan ini karena ulah beberapa pedagang yang nakal. Sekarang, jangan khawatir lagi! Mereka semua sudah memasang harga makanan secara jelas, sehingga kita tidak dapat lagi dipermainkan dengan penetapan harga yang semena-mena.
Banyak pengamen yang ikut memeriahkan warung-warung lesehan itu. Rata-rata warung lesehan menyajikan makanan yang cukup baik. Beberapa bahkan sangat direkomendasikan.
ANGKRINGAN YOGYA: Sepenggal Sejarah
KONSEP ANGKRINGAN
Konsep angkringan yang kita kenal kini adalah gerobak dorong dari kayu dengan tungku arang. Di atasnya ceret besar berjumlah tiga buah sebagai lokomotif utama untuk menghidangkan bahan minuman. Tak lupa yang menambah suasana remang-remang eksotis adalah lampu minyak kaca semprong (lampu teplok) menerangi di tengahnya. Tempat duduk menggunakan kursi kayu panjang mengelilingi sekitar gerobak yang dinaungi terpal plastic gulung sebagai tenda. Perpaduan bersahaja ini menjadi estetika angkringan yang terbentuk melawan waktu dan perkembangan jaman. Meski begitu, inilah yang menjadi daya tarik luar biasa dari warung angkringan.
Dan pastinya, selama tungku masih menyala…selama minuman hangat siap selalu untuk disajikan, maka selama itu pula keramahan dan keakraban suasana malam akan kita dapatkan.
Jadi, sekarang memang sudah tidak penting lagi mau angkringan aseli Jogja atau tidak, asal bisa menawarkan keramahan dan makanan serta minuman yang tetep bisa bikin kenyang, ya sama aja…
Nasi Kucing Menyerbu Ibu Kota
Nasi kucing yang dijajakan berupa nasih putih dengan lauk sayur tempe, ikan teri dan sambal ditambah dengan seiris ayam atau kaki ayam. Selain itu terdapat lauk tambahan lain berupa ayam, telur, sate usus, kaki ayam goreng dan lain-lain yang dapat bersifat pilihan. Nasi putih yang disediakan hanya segenggam saja sehingga tidak akan membuat orang merasa kenyang. Bagi pembeli laki-laki mungkin akan perlu menghabiskan lebih dari satu bungkus.
Keberadaan ikan teri dan bungkusan yang kecil inilah yang mungkin menjadi asal mula nama nasi kucing. Ibaratnya nasi tersebut sangat cocok sebagai makanan kucing di rumah. Untuk seekor kucing maka hanya perlu sebungkus dengan menu ikan teri asin yang sangat sedap. Jadi kalau anda hanya makan nasi kucing sebungkus, ibaratnya anda hanya seekor kucing
Nasi kucing biasanya dibungkus dalam daun pisang yang dilapis kertas koran. Soal bungkus inilah yang sebenarnya perlu menjadi perhatian, karena dapat menjadi memberikan kontribusi penyumbang sampah dalam jumlah besar. Nasi yang dibungkus kecil tetapi memerlukan bahan pembungkus yang banyak.
Meskipun pembungkus nasi kucing bersifat ramah lingkungan karena menggunakan bahan-bahan organik sehingga dapat diolah di alam dan tidak bersifat mencemari lingkungan, namun tentunya tetap bersifat sebagai sampah.
Satu catatan lagi soal bahan pembungkus nasi kucing ini adalah selalu menggunakan kertas bekas, baik berupa kertas koran maupun kertas bekas lainnya yang diperoleh dari perseorangan, sekolah atau kantor. Jadi boleh saja mereka para penggemar nasi kucing tetap menyebut produk ini sebagai berwawasan lingkungan.
Sejak dua tahun terakhir ini, “Angkringan ” sering juga disebut Warung Koboi, atau HIK yang dulunya hanya ada di Yogya dan Jawa Tengah kini mulai marak di Jakarta. Kalau di Yogya, angkringan adalah tetap nongkrong favorit para mahasiswa, sambil diskusi masalah kuliah atau ngegosip, bisa tahan berjam-jam di warung angkringan ini. Mungkin fenomena ini yang mau diusung ke Jakarta. Jakarta yang sebagian kaum urban, merupakan target pasar yang potensial dari Angkringan ini.
Bagi mereka yang pernah tinggal atau bersekolah di Yogya bila kangen nasi kucing tidak perlu repot-repot lagi ke yogya. Karena Nasi Kucing sudah mulai menyerbu dan bertebaran di sekitar kita di Ibu Kota.







